Mario Evander Ashbourne bukan sosok yang bisa diam terlalu lama. Hidupnya berjalan dari satu kota ke kota lain, satu proyek ke proyek lain, dari kamera ke catwalk — tapi tak satu pun membuatnya merasa terikat. Dia laki-laki yang hidup dengan prinsip sederhana: bebas tapi tetap berakar.
Lahir di Singapura, tapi lebih mengenal aroma hujan Jakarta daripada angin pelabuhan Marina Bay. Kerap dipanggil, Rio. Saat Mario berusia empat tahun, keluarganya pindah ke Indonesia karena pekerjaan sang ayah. Sejak itu, Jakarta menjadi rumah yang tak selalu tenang, tapi selalu penuh cerita.
Mario adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adik perempuannya adalah Marisca Eleanor Ashbourne, mahasiswi desain komunikasi visual, lima tahun lebih muda darinya.
Marisca adalah kebalikannya: kalem, perfeksionis, dan punya pikiran tajam. Tapi keduanya saling memahami dengan cara yang jarang orang lain bisa. Marisca sering jadi mata kedua dalam karya Mario — memberikan kritik pedas yang jujur, tapi juga inspirasi yang mendalam.
Mario tak pernah berniat jadi model. Dunia itu datang padanya tanpa diminta, lewat sorotan mata dan kamera teman SMA yang tanpa sengaja mengunggah fotonya ke sebuah agensi. Sejak itu, jalannya terbuka.
Namun bagi Mario, modeling hanyalah pintu masuk. Dunia yang sebenarnya ia cintai adalah fotografi, visual storytelling, dan kebebasan berkarya. Ia tak pernah betah bekerja di belakang meja — hidupnya adalah cerita yang ditulis di bandara, di jalan-jalan kota tua, di pantai sepi, atau di gang-gang sempit Tokyo dan Hanoi.
Mario tinggal di sebuah apartemen minimalis di Jakarta Selatan — bukan karena gaya, tapi karena fungsional. Penuh dengan kamera analog, tumpukan buku foto, coffee dripper, dan sticky notes dengan ide konten yang belum terealisasi.
Pagi-pagi dia bisa ditemukan di kafe kecil, headphone di telinga, laptop terbuka — mengedit video atau menulis caption panjang tentang makna sunyi. Malamnya, bisa saja dia lagi ngevlog di rooftop atau ngopi bareng teman-teman komunitas kreatif.